‘Pentingnya Menyuarakan Hati Para Korban Macet di Brexit’
Share:

‘Pentingnya Menyuarakan Hati Para Korban Macet di Brexit’

RILIS SATGAS PA

Kisah di hari bahagia lebaran dengan berakhir meninggal dunia, menambah catatan kelam penyelenggaraan Mudik dari tahun ke tahun. Meski tidak mungkin melarang orang untuk Mudik, artinya Pemerintah hanya punya satu pilihan yaitu menfasilitasi agar Mudik tahun ini berlangsung dengan lancar dan baik. Kecelakaan seperti sesuatu yang tidak dapat terhindarkan, namun dampaknya bisa dikurangi.

Laka lantas yang telah mencapai 800 an menjadi kisah panjang rententan kejadian Mudik tahun ini. Trend korban Mudik yang mencapai ribuan berpotensi akan terulang dari tahun ke tahun. Kecelakaan didominasi para pengendara pemotor yang tentunya membawa trauma panjang di event yang membahagiakan ini. Belasungkawa dan perihatinan kita atas duka mendalam yang dialami para korban dan keluarganya.

Keprihatinan kita juga tertuju pada Brexit yang menyebabkan 12 orang meninggal pada saat didera kemacetan. Laka lantas yang biasanya terjadi karena memacu kendaraan, mengantuk, kelelahan, akibat menyetir sambil memakai   handphone menjadi penyebab dominan laka lantas. Namun ternyata ditahun ini ada fenomena baru ditengah kemacetan pun bisa menjadi tragis yang menyebabkan jatuhnya korban dan 12 orang meninggal.

Meski disampaikan pemerintah kemacetan bukan satu-satunya factor penyebab, namun bila mencari-cari penyebab korban berjatuhan bisa muncul banyak factor yang harus menjadi perhatian. Seperti kesulitan mengakses fasilitas ditengah kemacetan (rest area, pertolongan kesehatan, tersedianya makanan yang dibutuhkan), dehidrasi, panasnya kendaraan dan suasana di lokasi kemacetan, gangguan kesehatan karena terlalu lama didera kemacetan, akses pos pos kesehatan yang belum ada di sepanjang keluar tol brexit, kelelahan menghadapi macet, stress takut kehabisan bahan bakar dan makanan, serta penyebab kelanjutan karena sebelumnya sakit. Artinya banyak penyebab yang muncul dan bisa berdampak buruk ditengah kemacetan yang panjang seperti di Brexit. Pemahaman bahwa stress yang panjang dan potensi sakit di tengah kemacetan harus menjadi perhatian pemerintah, dan penyedia jasa Tol untuk lebih mengutamakan keselamatan para pengguna jalan.

Sebenarnya pemerintah sudah melakukan evaluasi cepat atas kejadian Mudik tahun ini. Hasil evaluasi cepat itu juga sudah disampaikan dengan mengumumkan jumlah korban, penyebab kemacetan, dan solusi pembagian arus balik nanti. Hanya saja sosialisasi ini perlu disampaikan kembali kepada para pengguna jalan di arus balik nanti dengan memanfaatkan media yang ada. Agar para pengguna transportasi publik terutama para supir  memahami tugas mereka dalam mendukung keselamatan dijalan dan mendukung para petugas dilapangan. Dengan mensosialisasikan langsung kepada para pemudik tentunya akan memberi dampak nyata mengurangi korban.

Dalam menyikapi berjatuhan korban, hendaknya Pemerintah segera melakukan langkah langkah cepat. Terutama perhatian dan empati untuk keluarga korban. Sudah terbayang potensi disabilitas, luka berat, kehilangan anggota keluarga, trauma panjang yang akan dihadapi korban dan keluarganya serta assessment dampak lanjutan.  Antisipasi yang harus segera dilakukan adalah merehabilitasi, mendata korban dan menganalisa dampak panjang dengan mengunjungi para korban. Bahwa potensi kemiskinan, gangguan psikologis akibat trauma panjang, anak menjadi yatim atau piatu, potensi anak kehilangan pengasuhan bisa saja terjadi. Hasil ini diharapkan dapat mencegah, –menjadi korban berlapis. Apalagi dinyatakan dominasi korban dari para pemotor yang biasanya diisi bapak, ibu dan anak. Hal ini perlu segera dilakukan dengan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah ataupun bekerjasama dengan organisasi masyarakat setempat.

Dari pelajaran Mudik 2016 kita dapat belajar, bahwa persoalan menfasilitasi para pemudik tidak hanya bertumpu kepada Kementerian Perhubungan dan Kepolisian. Banyak permasalahan dilapangan yang dapat bermunculan tiba-tiba dan perlu campur tangan pihak lain. Pekerjaan ini adalah pekerjaan besar memobilisasi dan menfasilitasi 18 juta orang (Data Kementerian Perhubungan). Pekerjaan ini adalah pekerjaan lintas sektor guna antisipasi cepat potensi bencana sosial yang dihadapi diperjalanan. Peran Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kesehatan  dan Kementerian Sosial sangat besar dalam melakukan antisipasi cepat dari segala kondisi yang bisa terjadi. Sehingga apa yang diinginkan pemerintah dalam perbaikan evaluasi, dapat tercapai dengan baik dan menyelamatkan banyak orang. Jangan sampai kejadian yang sama meninggalnya 12 orang di Brexit terulang kembali, akibat tidak melakukan koordinasi secara integrasi dan melibatkan pihak pihak yang dianggap penting dapat mencegah dan mengurangi dampaknya. Salah satu agenda penting saat ini adalah rehabilitasi untuk korban dan keluarga. Karena para korban sudah didepan mata kita. Peranan mengetahui situasi keluarga korban lebih penting dilakukan agar keluarga korban terbantu dalam melepas kesedihan dan kesusahannya di hari raya ini.

Untuk itu Satgas Perlindungan Anak menghimbau kepada semua pihak mendukung aksi cepat Pemerintah guna mengantisipasi dan melakukan langkah-langkah yang dianggap penting dengan dengan penanganan lintas sektor. Masih ada agenda arus balik yang tentu sewaktu waktu juga menjadi bom waktu bagi penyelenggara Mudik. Semoga kejadian meninggalnya korban di Brexit jadi pembelajaran bersama baik Pemerintah, para pemudik dan masyarakat dalam menggunakan fasilitas publik.

Sudah seharusnya kedepan penyelenggara Mudik bukan hanya tugas Kementerian Perhubungan dan Kepolisian dalam menyiapkan semuanya. Harusnya jadi pekerjaan lintas sector dan bedampak setiap kejadian dapat ditangani dengan cepat. Seperti keterlibatan aktif Kementerian Sosial untuk melakukan rehabilitasi kepada keluarga korban, Kementerian Kesehatan dalam menjadi satelit berbagi rumah sakit yang ada didaerah untuk melakukan reaksi cepat ketika terjadi kemacetan, kecelakaan ataupun mendirikan posko ditengah macet yang berkepanjangan.

Apresiasi setinggi-tingginya juga kita sampaikan kepada masyarakat yang telah bergerak dan membuka diri menjadi tempat istirahat para pemudik, mendirikan toilet darurat di Brexit, menjual makanan disepanjang kemacetan yang memakan dua hari di Brexit, para pendongeng yang tergabung dalam Gerakan Pendongeng Untuk Kemanusiaan yang telah mengisi hiburan dan mengurangi kebosanan para pemudik di terminal, stasiun dan pelabuhan di Jakarta, KPAI yang telah koordinasi lintas sector untuk menghimbau Mudik Ramah Anak, Kementerian Perhubungan, Kepolisian RI dan Media yang terus melakukan sosialisasi dan informasi guna keselamatan para pemudik.

Kita juga apresiasi kepada para petugas terutama dari Kementerian Perhubungan dan Kepolisian RI yang telah mengorbankan waktu dan meninggalkan keluarga demi menfasilitasi para pemudik selama menggunakan transportasi publik. Begitu juga apresiasi untuk CSR yang telah bekerjasama dengan Pemerintah mewujudkan Mudik para Disabilitas pengguna Kursi Roda. Ini menjadi bagian pertama Mudik tahun ini untuk Uji Perdana Mudik Ramah Disabilitas para pengguna kursi roda. Hal ini patut disambut baik dengan data Disabilitas yang mencapai 6 juta di negeri ini. Bahwa masih ada warga kita yang tentu tidak mudah mengakses fasilitas publik untuk Mudik. Uji Perdana ini akan berlanjut pada arus balik nanti dengan melepas para pemudik Disabilitas pada tanggal 9 Juli 2016 di Solo Jawa Tengah. Kita berharap tahun depan dengan besarnya keinginan Mudik para Disabilitas menggerakkan berbagai pihak untuk menyelenggarakan Mudik gratis bagi mereka.

Semoga semua aktifitas terus berlanjut dan menjadi pengawalan bersama sampai arus balik nanti. Bahwa dalam arus balik nanti panitia penyelengggara Mudik yaitu Negara punya kepentingan membangun Mudik yang lebih ramah untuk para keluarga, anak, disabilitas dan lansia. Mari hasil evaluasi kemarin yang telah dilakukan Kementerian Perhubungan dan Kepolisian kita dukung bersama sama guna keselamatan bagi para pemudik di arus balik nanti.

Ilma Sovri Yanti

Koordinator Mudik Ramah Anak dan Disabilitas 2016

Koordinator Satuan Tugas Pelindungan Anak

Share:
Written by
Ilma Ilyas
Join the discussion

Ilma Ilyas

Saya seorang aktivis untuk mendorong dialog antar-agama, mempromosikan toleransi, serta memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.

Instagram

Instagram has returned invalid data.