MUDIK RAMAH BAGI PENYANDANG DISABILITAS
Share:

MUDIK RAMAH BAGI PENYANDANG DISABILITAS

Aksesibilitas adalah salah satu prasyarat bagi pemenuhan  hak  dan partisipasi penuh penyandang  disabilitas. Adalah sebuah mandat  bagi negeri yang menjunjung tinggi sila “Keadilan bagi seluruh  rakyat Indonesia” untuk  mewujudkannya. Hal ini  semakin  dipertegas  dengan ratifikasi konvensi hak  penyandang  disabilitas (CRPD) yang disahkan menjadi UU No. 19 tahun 2011, dimana  pada pasal 9 konvensi  tersebut, dinyatakan  bahwa  adalah  merupakan kewajiban Negara-negara pihak yang telah meratifikasinya untuk mewujudkan, mempromosikan, serta mengatur penyelenggaraan aksesibilitas di berbagai sarana publik, serta sarana-sarana  yang diselenggarakan oleh lembaga privat untuk publik.

Sayangnya asas Aksesibilitas yaitu KEMUDAHAN, KEGUNAAN, KESELAMATAN dan KEMANDIRIAN sepertinya masih belum tersedia di fasilitas Stasiun, Terminal dan termasuk transportasinya sendiri untuk bisa mewujudkan ramah mudik tersebut. Disinilah seharusnya pemerintah memulai sebenar-benarnya pembangunan penyedia sarana prasana dan transportasi yang terintegrasi satu sama lainnya dan aksesibel agar Mudik Ramah bisa terwujud dengan nyata. Tidak ada lagi alasan pemerintah belum ada atau belum siap dengan aksesibilitas sarana prasarana dan transportasi di tahun depan.

Secara spesifik permasalahan mudik bagi penyandang disabilitas ialah tidak adanya toilet aksesibel di transportasi angkutan Bis dan Kereta Api. Coba kita bayangkan dan rasakan, banyak penyandang disabilitas ketika akan bepergian mudik dengan perjalanan selama 3 sampai 12 jam menggunakan Bis/Kereta Api, penyandang disabilitas akan mengurangi kadar minum untuk menghindari aktivitas BAK padahal kita semua tahu dampak dari mengurangi minum akan terjadi dehidrasi dan merusak ginjal. Apakah ini sudah layak disebut mudik ramah disabilitas??? Bentuk tawaran kami ialah di setiap transportasi mudik wajib menyediakan Toilet Portable apabila transpotasi tersebut belum aksesibel.

Layanan Personal Assistant/Pendampingan

Pelayanan personal assistant (pendampingan) adalah komponen yang sangat vital dalam independent living. Bagi beberapa penyandang disabilitas, personal assistant adalah sebagai kunci untuk hidup mandiri. Personal assistant membantu penyandang disabilitas untuk mengerjakan hal-hal yang mereka tidak dapat lakukan sendiri. Layanan personal assistant adalah memberikan ruang kepada penyandang disabilitas untuk menerima bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari atau melakukan tugas-tugas lainnya. Layanan personal assistant dibentuk berdasarkan keyakinan bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang paling tepat untuk menentukan layanan apa yang mereka butuhkan.

Personal assitant dapat diartikan sebagai kompensasi kedisabilitasan dengan menyerahkan beberapa tugas tertentu. Dengan kata lain, penyandang disabilitas selaku pengguna/konsumen adalah yang memutuskan kegiatan apa yang akan dilimpahkan, kepada siapa dan kapan, serta bagaimana tugas tersebut akan dilakukan.

Setiap orang membutuhkan bantuan baik penyandang disabilitas atau bukan penyandang disabilitas. Tidak ada seorangpun yang dapat mengerjakan seluruh pekerjaan dalam hidupnya sendiri. Misalnya, orang yang memiliki sepeda motor belum tentu dia dapat memperbaiki motornya sendiri, tetapi lebih memerlukan bantuan orang lain untuk mengerjakannya. Contoh kebutuhan layanan personal assistant adalah dalam hal mendorong kursi roda tetapi tidak itu saja, lebih dari itu yaitu aktifitas lain yang diperlukan oleh pengguna. Personal assistant memberikan ruang gerak kepada penyandang disabilitas selaku konsumen untuk mencapai kemandiriannya secara utuh. Melalui layanan personal assistant konsumen dapat lebih leluasa dalam pendidikan, keterampilan, rekreasi, dan aktivitas sosial lainnya. Namun ada hal penting yang perlu diingat bahwa setiap mengerjakan sesuatu personal assistant harus selalu bertanya bagaimana seharusnya kepada konsumennya.

Jadi sangat pentingnya pemerintah menyediakan pendampingan khususnya untuk penyandang disabilitas berat bagi Mudik Ramah tahun ini.

Point-point penting antara PA/Pendamping dan penyandang disabilitas

  • Personal Assistant (PA) dapat disebut pendamping merupakan orang yang memberikan jasa kepada penyandang disabilitas dalam rangka mencapai kemandirian. Perlu digarisbawahi bahwa PA bukan semata-mata bertujuan agar penyandang disabilitas bergantung pada orang lain. Tapi lebih dikarenakan bantuan tersebut memang dibutuhkan dan alat bantu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas tersebut. Hal ini dianggap perlu karena dalam melaksanakan aktivitasnya, penyandang disabilitas sering kali mengalami hambatan yang dikarenakan lingkungan fisik yang tidak mengakomodasi keterbatasan fisiknya.
  • PA dan Pengguna PA (penyandang disabilitas) harus dapat bekerja sama dengan baik supaya kemandirian itu terwujud dengan baik. Untuk itu terdapat kode etik untuk kedua belah pihak diantaranya:
  • PA dapat memberikan saran tapi bukan menentukan aktivitas atau jadwal Pengguna PA seperti layaknya suster atau perawat. Keputusan tetap ada di penyandang disabilitas itu sendiri.
  • PA dan Pengguna PA harus menjalin komunikasi dengan baik, sehingga kinerja berjalan lancar.
  • PA dan pengguna PA harus saling mengetahui dan memahami lingkup kerja PA sesuai dengan kesepakatan yang berlaku.
  • Pihak PA dan Pengguna PA harus saling menghargai lebih-lebih lagi dilarang untuk melakukan sikap yang saling melecehkan.

PA adalah salah satu hak asasi bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan. Keberadaan PA bukan sebagai bantuan tetapi sebagai pemenuhan dari hak yang seharusnya dipenuhi oleh negara. Sudah saatnya pula pemerintah Indonesia mulai mengakomodir kebutuhan pelayanan personal assistant karena pelayanan ini menjadi Hak Penuh Penyandang Disabilitas untuk membantu fungsi mobilitasnya dan pada akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat inklusipun tercipta ditengah masyarakat kita. Sangat berharap ini bisa dimulai Mudik Ramah tahun ini juga.

Dalam pengalaman mudik ada banyak sekali orang yang berusaha menerobos barisan. mencuri-curi celah, membentuk barisan baru yang semestinya hanya 1 baris akhirnya menjadi 2 baris. Budaya antri masyarakat kita masih masih sangat buruk ini mengakibatkan penyandang disabilitas selalu kalah/mengalah dalam antrian apapun terutama ketika sudah berdesakan. Kami berharap ada prioritas layanan khusus bagi penyandang disabilitas, tapi ini bukan berarti penyandang disabilitas diistimewakan.

Aturan dasar berkomunikasi dengan penyandang disabilitas

  • Ketika berbicara dengan seorang penyandang disabilitas, bicaralah langsung kepada yang bersangkutan BUKAN lewat orang disampingnya atau penerjemah bahasa isyaratnya
  • Ketika berkenalan dengan penyandang disabilitas, tidak masalah untuk menawarkan salaman. Orang dengan tangan terbatas atau yang menggunakan tangan palsu biasanya tidak masalah dalam bersalaman. Bagi yang tidak bisa bersalaman (misalnya tidak memiliki lengan) tidak apa apa untuk menyentuh bahunya
  • Ketika bertemu seorang tunanetra, selalu menyebutkan siapa diri anda atau orang lain yang bersama anda
  • Ketika menawarkan pertolongan, tunggu sampai dengan tawaran tersebut diterima dan dengarkan atau tanya instruksinya
  • Perlakukan penyandang disabilitas dewasa sebagai orang dewasa

Aturan dasar.

  • Bersandar pada kursi roda seseorang sama saja dengan bersandar pada tubuh individu yang pada umumnya tidak menyenangkan
  • Dengarkan dengan seksama ketika berbicara dengan orang yang memiliki kesulitan bicara. Bersabar dan tunggu sampai orang tersebut selesai jangan sampai mengoreksi atau berbicara atas nama yang bersangkutan
  • Ketika berbicara dengan pengguna kursi roda, usahakan anda berada satu level didepannya untuk melakukan pembicaraan
  • Untuk menarik perhatian tunarungu, boleh menepuk bahunya atau melambaikan tangan. Bertatapan langsung dan bicaralah dengan jelas, pelan, dan ekspresif untuk bisa membaca bibir
  • Tidak perlu malu dengan ungkapan ‘sampai jumpa lagi’ pada seorang tunanetra. Siapapun bisa melakukan kesalahan. Tidak perlu ragu untuk minta maaf, sense humor, dan kemauan untuk berkomunikasi

Etika berkomunikasi dengan penyandang spesifik disabilitas

Kelainan pendengaran:

  • Berikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk mengarahkan cara berkomunikasi dengan bahasa isyarat, baca bibir, atau tertulis
  • Berhadapan dengan wajahnya
  • Jangan sambil mengunya permen karet, menutupi bibir atau muka pada saat berbicara
  • Gunakan padanan kata yang lebih sederhana daripada harus bicara berulang ulang
  • Berbicara jelas dengan suara yang normal
  • Menjauh dari kebisingan
  • Usahakan mendapat perhatian dari yang bersangkutan sebelum mengadakan pembicaraan

Kelainan penglihatan:

  • Ketika menyapa yang bersangkutan, sentuh punggung telapak tangannya, sebutkan diri dan yang bersama anda
  • Usahakan deskriptif dengan keadaan sekeliling
  • Tidak perlu bicara dengan suara terlalu keras
  • Jika anda diminta untuk menunjukan arah, biarkan dia yang memegang sikut anda BUKAN anda yang memegangnya
  • Jangan meninggalkan dia atau memindahkan barang miliknya tanpa permisi/pemberitahuan
  • Jika menggunakan service animal, jangan mengganggunya

Kelainan Bicara:

  • Dengarkan dengan sabar, jangan memotong pembicaraannya
  • Jangan berpura pura mengerti pembicaraannya hanya karena takut menyinggung perasaannya
  • Mintalah yang bersangkutan untuk menuliskan kata jika and tidak mengerti apa yang dikatakannya
  • Di beberapa negara maju, seringkali digunakan alat bicara (talking board) atau komputer bicara

Kelainan gerak (tunadaksa):

  • Usahakan untuk duduk atau sedikit jongkok berhadapan jika berbicara dengan pengguna kursi roda (wajah berada dalam satu level)
  • Jangan bersandar pada kursi rodanya kecuali atas ijinnya, karena itu adalah ranah pribadi yang bersangkutan
  • Tetap sadari area yang aksesibel atau tidak bagi pengguna kursi roda
  • Mendorong kursi roda hanya jika diminta
  • Jangan memegang tongkatnya, jika yang bersangkutan sedang berjalan

Ketahuilah bahwa beberapa pengguna kursi roda juga bisa berjalan dengan menggunakan alat bantu lain

Kelainan Kognitif:

  • Bicara yang jelas, gunakan bahasa yang spesifik
  • Beri kesempatan dia mengungkapkan apa yang diinginkan
  • Gunakan instruksi yang pendek dan jelas
  • Gunakan modelling/role playing
  • Gunakan bahasa konkrit
  • Jika anda tidak yakin apa yang harus dilakukan, tanyalah apa yang dia butuhkan

Masalah kejiwaan:

  • Bicara dengan jelas
  • Tidak memandang sebelah mata/menyepelekan
  • Hadapi dengan sabar dan menghargai
  • Tatap muka ketika melakukan pembicaraan

Informasi ini dibuat oleh Faisal Rusdi, penyandang disabilitas Cerebral Palsy yang mengalami kelumpuhan pada bagian kaki dan menggunakan kursi roda.

Dipersembahkan oleh Satgas Perlindungan Anak

Share:
Written by
Ilma Ilyas
Join the discussion

Ilma Ilyas

Saya seorang aktivis untuk mendorong dialog antar-agama, mempromosikan toleransi, serta memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.