MUDIK DIKELOLA DENGAN PARADIGMA BARU, LEBIH MELINDUNGI ANAK DAN DISABILITAS
Share:

MUDIK DIKELOLA DENGAN PARADIGMA BARU, LEBIH MELINDUNGI ANAK DAN DISABILITAS

Tahun 2015 adalah tahun ke-lima bagi Satuan Tugas Perlindungan Anak (Satgas PA) bekerjasama dengan jaringan dan mitra dalam mengkampanyekan Mudik Ramah Anak (MRA). Seiringan dengan waktu berjalan kegiatan kampanye MRA menjadi menarik untuk dilanjutkan bahkan dilakukan oleh siapa pun dengan memiliki tujuan yang sama yaitu rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap kondisi anak Indonesia.

IMG-20150714-WA0009
Dol. Istimewa. Melakukan kampanye MRAD 2015 di Bundaran HI

Tahun 2015 adalah tahun special bagi Satgas PA bersama jaringan dan mitra kerja, yang sepakat untuk mengkampanyekan isu disabilitas dalam pelaksanaan mudik, sebagai langkah nyata dalam gerakan masyarakat inkusif yaitu masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap penyandang  disabilitas sebagai bagian dari masyarakat mandiri. Ada poin penting dalam isu disabilitas yaitu memberikan masukan kepada pemerintah yang ketika itu sedang mempersiapkan UU Penyandang Disabilitas. Hal ini dianggap penting karena aksessibel di Indonesia masih jauh dari harapan bagi penyandang disabilitas, sehingga membuat gerakan menuju kemandirian jadi terhalang.

Disabilitas juga ingin mudik

IMG-20150711-WA0087
Dok. Istimewa. Komunitas JBFT bersama Satgas PA dan Komisi VIII DPR RI melakukan audit layanan fasilitas mudik di pelabuhan Tanjung Periok dalam MRAD 2015

Ada alasan mengapa disabilitas pantas untuk diangkat menjadi tema dalam kampanye MRAD. Pertama, publik harus tahu dan sadar bahwa siapa saja dapat terancam dan menjadi disabilitas. Kedua, fasilitas dan layanan atau aksessibilitas di Indonesia masih belum mengakomodir kebutuhan disabilitas. Ketiga, jangan melihat pada disabilitasnya namun lihat disekitar atau lingkungan disabilitas berada, apa dan siapa yang membuat disabilitas menjadi terhambat dan terbatas. Keempat, kebijakan dalam isu disabilitas masih mengalami diskriminasi. Kelima, negara dan pemerintah belum serius menangani kebutuhan aksessibilitas bagi disabilitas. Keenam, banyak hak yang tidak terpenuhi sehingga pelanggaran HAM sangat mudah terjadi.

Kita dapat membayangkan tingkat kesulitan yang dialami orang dengan disabilitas. Misalnya dalam perjalanan waktu, sering terkendala dalam layanan dan fasilitas transportasi, fasilitas toilet umum, tempat untuk beribadah, fasilitas ruang tunggu bahkan kantin atau cafe yang masih setengah hati menyediakannya (fasilitas yang akses). Orang dengan disabilitas pun harus menahan ke toilet atau harus menggunakan pispot dan pampers agar kebutuhan untuk buang air pun dapat dilakukan secara mandiri, ini dikarenakan fasilitas tersebut tidak ada.

IMG-20150718-WA0053
Dok. Istimewa. Trian (Netra) keinginannya untuk mudik yang aman dan nyaman dapat jadi perhatian penyelenggara negara.

Mudik ke kampung halaman memang sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia menjelang Hari Raya, termasuk juga para penyandang disabilitas. Salah satunya Trian Airlangga, penyandang tunanetra yang mudik ke Bandung menggunakan bus dari Terminal Kampung Rambutan. Setiap tahun menggunakan transportasi publik, Trian merasa layanan mudik yang disediakan belum ramah terhadap para penyandang disabilitas. Misalnya saja tidak adanya guiding block untuk penyandang tunanetra yang tidak terhalang apapun. Untuk sampai ke ruang tunggu Terminal Kampung Rambutan, ia harus berjalan di jalan yang juga dilalui bus. hal Ini membahayakan sekali. Trian juga merasa petugas di terminal belum begitu sigap dalam membantu teman-teman disabilitas, kata Trian Airlangga saat ditemui di terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Jumat (10/7/2015).

Pengalaman kurang mengenakkan saat menggunakan transportasi umum juga dirasakan Faisal Rusdi, penyandang disabilitas Cerebral Palsy yang mengalami kelumpuhan pada bagian kaki dan menggunakan kursi roda. Menuturkan pengalaman pribadinya kepada penulis saat melakukan MRAD 2015 lalu. Karena tidak disediakannya toilet khusus penyandang disabilitas seperti dirinya, ia kerap menahan buang air dalam waktu yang lama selama perjalanan di atas kereta. Untuk mengatasi kesulitan ini biasanya Faisal memilih untuk tidak minum karena takut kebelet buang air kecil. Sementara jika keseringan puasa air Faisal pun kawatir dengan kondisi kesehatannya terutama ginjal karena kurang minum. Ini sangat menyulitkan kata Faisal Rusdi.

Baik Faisal maupun Trian sama-sama berharap agar layanan mudik dapat menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi penyandang disabilitas. Mereka juga berharap agar petugas dan masyarakat bisa lebih aware dan memahami kesulitan yang dialami Trian mau pun Faisal.

Ingin mudik membawa anak? Penuhi dulu hak anak

Pemenuhan hak anak dalam mudik mutlak diperlukan. Mudik merupakan aktivitas sosial manusia yang terdiri atas orang dewasa dan anak-anak menuju kampung halaman. Dalam perjalanan mudik, anak-anak kerap mengalami situasi yang dapat mengganggu tumbuh kembang mereka. Karena itu, dalam momen mudik, anak membutuhkan perlindungan khusus karena berpotensi mendapat perlakuan salah, ancaman, penelantaran, bahkan kekerasan.

20150711_162700
Dok. Istimewa. Desy Ratnasari Komisi VIII DPR RI mendatangi dan menyapa pemudik yang menunggu jam keberangkatan kapal laut bersama anaknya, di pelabuhan Tanjung Periok 7/7/2015

Dalam momen sebesar itu, pemenuhan hak anak sering terabaikan. Anak-anak kerap menjadi penderita utama dalam mudik. Perjalanan mudik yang mestinya menyenangkan sering berubah menjadi pelanggaran hak anak, bahkan menjadi malapetaka ketika mudik tidak dilakukan dengan persiapan yang matang dan hati-hati. Beberapa waktu lalu ada kisah sekeluarga pemudik melakukan perjalanan dari Jakarta ke Jawa Tengah. Tidak pernah diduga sebelumnya, bayi dalam gendongan orang tuanya sudah meninggal begitu memasuki wilayah Jawa Tengah.

Secara umum, potensi pelanggaran hak anak terjadi pada perjalanan mudik menuju kampung halaman maupun arus balik. Ada beberapa peristiwa mudik yang perlu mendapat perhatian agar anak tetap diprioritaskan.

Pertama, pengabaian hak anak kerap terjadi pada model angkutan umum massal seperti bis, kapal laut, dan kereta api yang tidak menyediakan fasilitas khusus untuk anak-anak. Berdesak-desakan lebih sering menguntungkan penumpang orang dewasa. Di sinilah perlunya mendidik penumpang untuk peka dan peduli kepada anak-anak.

Kedua, untuk pemudik bersepeda motor, anak-anak mengalami kondisi yang jauh lebih memiriskan, atau kondisi anak tidaklah sama dengan kondisi orang dewasa. Anak-anak dipaksa menempuh perjalanan ratusan kilometer tanpa pelindung dan pengaman yang memadai. Anak-anak mengalami terpaan panas matahari di siang hari dan dinginnya udara malam secara terus menerus sepanjang perjalanan. Mereka juga rentan menjadi korban kecelakaan lalu lintas.  Sampai hari ini, pemudik bersepeda motor menyumbang 70 persen kecelakaan lalu lintas.
Dalam situasi semacam itu, anak berpotensi mendapat kekerasan dari lingkungan.

Ketiga, kebutuhan dasar anak yang tidak terpenuhi. Anak yang masih dalam masa tumbuh dan berkembang memerlukan perhatian dari orang tua. Meski dalam suasana puasa, kebutuhan makan, minum, dan kesehatan pada anak yang menyertai orang tuanya dalam perjalanan mudik harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai lupa bahwa anak tidak perlu dipaksakan untuk berpuasa pada kondisi tertentu.

Hal inilah mengampanyekan mudik ramah anak menjadi keharusan. Pesepeda motor yang berpotensi membahayakan penumpangnya terutama anak-anak, harus dihentikan dan dialihkan dengan kendaraan lain. Tindakan tegas harus dilakukan di kota tempat para pemudik berangkat. Pemudik yang membawa anak-anak dianjurkan mempergunakan angkutan masal yang disediakan pemerintah mau pun pihak swasta.

Idealnya tersedia fasilitas khusus bagi pemudik anak-anak, khususnya di posko-posko mudik. Di samping posko-posko bagi para pemudik pun harus didesain ramah anak seperti tersedianya tempat menyusui bagi bayi, terdapat sarana prasarana permainan anak, serta kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan anak.

Indonesia sudah meratifikasi Convention on the Rights of the Child yang dicanangkan PBB pada 1989. Di samping kita memiliki UU No 23/2002 yang direvisi menjadi UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak (UUPA). Semua mengatur hak anak seperti hak untuk hidup layak, hak untuk tumbuh dan berkembang optimal, serta hak memperoleh perlindungan. Namun, dalam kegiatan mudik, hak-hak dasar anak sering dilanggar, termasuk oleh orang tua. Memaksa anak untuk pulang mudik dengan sepeda motor merupakan tindak kekerasan kepada anak.

Ancaman Pidana Mengintai

Membiarkan anak naik sepeda motor dalam perjalanan jauh penuh risiko kecelakaan tanpa perlindungan juga merupakan pembiaran dan penelantaran kepada anak. Pasal 63 UU Perlindungan Anak, Setiap orang dilarang membiarkan anak tanpa perlindungan jiwa. Pasal 77 ayat (2), Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah dan penelantaran… Di ayat b pasal yang sama dikatakan, Penelantaran anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit dan penderitaan baik fisik, mental, maupun sosial dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Aspek yuridis juga terkandung upaya penyadaran untuk mengedepankan kepentingan terbaik anak. Karena itu, mengampanyekan mudik yang aman dan melindungi anak sangat penting dilakukan. Kita berharap pemenuhan hak anak benar-benar mendapat perhatian secara saksama, khususnya saat mudik menjelang Lebaran tahun ini.

Korban yang berjatuhan, terutama anak-anak yang tidak berdosa, harus ditekan seminimal mungkin. Dan orang tua, petugas kepolisian, maupun pemudik sendiri harus menyadari betapa pentingnya memenuhi hak anak dalam mudik. Mudik yang aman dan nyaman tentu akan menjadi kebahagiaan semua, termasuk anak-anak. Negara harus berperan untuk mengampanyekan mudik yang aman dan nyaman bagi anak. Karena itu, tindakan tegas terhadap para pemudik yang membahayakan keselamatan anak-anak diperlukan. Mudik harus dikelola dengan paradigma baru. Yakni, lebih melindungi anak.


Ilma Sovri Yanti – Aktivis Perlindungan Anak

 

Share:
Written by
Ilma Ilyas
Join the discussion

Ilma Ilyas

Saya seorang aktivis untuk mendorong dialog antar-agama, mempromosikan toleransi, serta memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.