Membangun Mudik Ramah Disabilitas
Share:

Membangun Mudik Ramah Disabilitas

Pelepasan rombongan mudik bareng disabilitas bersama BSM, Kemesos dan Satgas PA 2 Juli 2016

Sabtu, 02 Juli 2016 , 11:01:00 WIB

http://www.zonalima.com/artikel/9383/Membangun-Mudik-Ramah-Disabilitas/

man-headphones

Ilma Sovri Yanti, Koordinator Mudik Ramah Disabilitas 2016

Oleh: Ilma Sovri Yanti, Koordinator Mudik Ramah Disabilitas 2016

KISAH ini berawal dari kegagalan mudik yang dialami Sigit bersama 3 orang teman pengguna kursi roda lainnya untuk mendapatkan tiket kereta. Pada awalnya, 2 bulan sebelum lebaran tahun ini, mereka sudah mencoba memesan tiket kereta secara online, namun apa daya tiket sudah habis semua. Pertimbangan menggunakan kereta bagi Sigit dan kawan kawan adalah karena lebih aman dibanding transportasi lainnya. Meski masih menghadapi beberapa hambatan namun dengan kereta tetap lebih aman. Jika menggunakan moda kereta, mereka harus sudah tiba di stasiun pada dini hari. Selanjutnya dari stasiun, Sigit masih harus menempuh  perjalanan 14 km ke desanya di Kebumen Jawa Tengah.

Namun harapan untuk Mudik tahun ini muncul lagi, setelah membaca viral online tentang Mudik Gratis untuk Disabilitas yang diselenggarakan pihak swasta. Mereka berusaha mendaftar, namun sayangnya lagi-lagi mereka harus menelan kekecewaan karena Mudik Gratis yang ditawarkan belum mengakomodir mereka. Mereka baru menyertakan Disabilitas Daksa dan Tuna Rungu. Dengan kekecewaan, mereka menyampaikan mengapa Mudik Gratis Disabilitas masih membedakan kondisi mereka yang berkursi roda.
Namun entah mengapa, Sigit dan temannya Priyo tetap saja berusaha bertemu dengan panitia Mudik Gratis. Katanya tetap penting mensosialisasikan  24 hak Disabilitas dalam UU. Bagi mereka, ini terjadi karena belum ada kesepamahaman bersama tentang situasi disabilitas. Berbekal informasi pada 30 Juni 2016 BSM akan mengadakan konpers Mudik, mereka pun meminta izin untuk ikut hadir. Kemudian mereka  menjelaskan situasi kenapa mereka tidak bisa Mudik pada pertemuan Media Briefing tersebut.

Pertama mereka menyampaikan usaha mereka untuk mudik yang akhirnya tidak berhasil, kemudian mendengar Mudik Gratis untuk Disabilitas mereka mencoba mendaftar. Hanya kemudian mereka kecewa ternyata pengguna kursi roda belum bisa ikut program ini. Mereka menjelaskan mereka hanya butuh diberi kesempatan dan akses. Panitia Mudik menjelaskan mereka baru bisa mengakomodir Tuna Rungu dan Tuna Daksa. Sebenarnya ada transportasi travel yang bisa membantu mereka sampai kampung, hanya saja menjadi teramat mahal bagi mereka.

Kemudian panitia mengkonsultasikan situasi ini kepada Kementerian Sosial dan Satuan Tugas Perlindungan Anak. Gayung bersambut ternyata Kemensos memiliki mobil akses yang dapat mengantar Sigit dan teman-temannya.

Akhirnya perjuangan mereka berbuah manis. Pada 2 Juli nanti, jam 8 pagi, mereka akan dilepas bersama 1200 orang pemudik gratis lainnya di Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat.

Akan ada pemandangan baru dalam barisan 25 bus nanti, yaitu adaanya Mobil Akses yang membawa Sigit dan kawan-kawan pengguna kursi roda bisa pulang kampung. Pertimbangan memakai mobil akses ini disampaikan penyelenggara Mudik Gratis, karena hanya mobil akses ini yang aman dan bisa menghantarkan mereka sampai rumah, tidak mungkin dengan naik bus. Betapa bahagia Sigit dan kawan kawan atas komitmen penyelenggara Mudik Gratis.

Terharu rasanya melihat perjuangan teman-teman Disabilitas. Mobil Akses akan menempuh perjalanan Mudik ke Purbalingga, Kebumen dan Solo. Bila ada teman-teman yang sepanjang Mudik melihat mobil berbentuk Elf atau sebesar mobil travel dengan tulisan “Mobil Akses Penyandang Disabilitas”, tidak ada salahnya kalau memberi mereka semangat.

Sigit dan kawan-kawan secara khusus berterima kasih karena mereka punya keinginan kuat Mudik dan disambut dengan memberikan akses dan kesempatan. Bayangkan kelompok Disabilitas punya keinginan mandiri. Namun bangunan, infrastruktur, transportasi tidak bertumbuh bersama keinginan mereka. Jika tidak difasilitasi maka impian mereka untuk bertemu keluarga tentu tidak terwujud.

Jika kesulitan itu tidak diatasi, maka orang akan menganggap kaum disabilitas itu menyusahkan orang lain. Padahal, cara berpikirnya mesti dibalik. Kelompok disabilitas itu berusaha tumbuh dan belajar mandiri, karena itu, fasilitas juga seharusnya bertumbuh. Dan itu juga menjadi bagian membangun kualitas kehidupan bersama.

Sigit berharap, semoga langkah kecil ini bisa menjadi pemantik untuk penyelengggaran Mudik Gratis tahun depan menyertakan teman-teman mereka dari kelompok disabilitas yang lebih banyak lagi.

Satgas PA Kampanye MRAD
Perjalanan Satgas PA bersama Jakarta Barrier Free Tourism melaksanakan kampanye Mudik Ramah Disabilitas yang dimulai 2015 merupakan sebuah perjuangan untuk mengedukasi tentang pentingnya hak disabilitas. Tentunya ini penantian panjang, sejak tahun 1997 ketika UU Disabilitas disahkan, dan kemudian diamandemen menjadi UU No. 8 Tahun 2016 tentang Disabilitas.

Karena Disabilitas bisa terjadi pada siapa saja, apalagi event Mudik. Bagi mereka, mudik selalu saja membawa korban dan potensi Disabilitas sangat tinggi, dengan hitungan ribuan korban meninggal tiap tahunnya. Artinya bagi mereka yang bisa mudik tahun lalu, bisa jadi tahun ini tidak dapat mudik karena menjadi salah satu korban kecelakaan dan menjadi Disabilitas. Inilah yang harus menjadi perhatian kita semua.

Karena itu, adalah kewajiban pemerintah untuk menyediakan infrastuktur dan sarana transportasi publik yang terintegrasi dan ramah terhadap penyandang disabilitas. Para Disabilitas menyampaikan bahwa perjuangan dan tuntutan ini bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk semua orang.

Faisal Rusdi, pengguna kursi roda Mudik tahun 2015 menemukan sebuah hal menarik. Saat berada di terminal Kampung Rambutan dan hendak masuk ke kamar mandi, dia menemukan bahwa kondisi dan fasilitas yang terdapat di sana menyulitkan dirinya. Akses jalan untuk pengguna kursi roda seperti dirinya, tidak ada. Karena itu, dia cukup sulit memasuki pintu kamar mandi tersebut. Ketika berhasil masuk di kamar mandi, dia juga menemukan kesulitan ketika harus berpindah dari kursi roda ke closet.

Bayangkan saja, bila tempatnya lebih lega dan akses jalan juga landau, dan bukan berupa tangga berundak-undak.

Fasilitas yang ramah terhadap kaum penyandang disabilitas sebenarnya tidak hanya nyaman untuk pengguna kursi roda, tetapi juga untuk semua pihak, seperti para lansia dan anak-anak. Artinya, hasil perbaikan fasilitas dan pembangunan tersebut dapat digunakan oleh siapa saja dan sangat bermanfaat bagi semua orang. Pada akhirnya, perbaikan ini diperuntukkan bagi semua dan untuk lebih meningkatkan kualitas kehidupan. Karena itu, jangan selalu melihat bahwa tuntutan kaum diasbilitas itu hanya untuk kepentingan diri mereka sendiri, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas kehidupan semua orang.

Terakhir, kami perlu menyampaikan terima kasih kepada parapihak yang sudah mau belajar bersama tentang Disabilitas. Sesungguhnya, kita semua berpotensi menjadi Disabilitas. Jangan sampai ketika kita sudah Disabilitas baru teringat pentingnya berbagai akses dan kesempatan. Untuk itu Ayuk semangat, bangun kemandirian Disabilitas melalui Mudik Ramah Disabilitas. * (Oleh: Ilma Sovri Yanti, Koordinator Mudik Ramah Disabilitas 2016)

Share:
Written by
Ilma Ilyas
Join the discussion

Ilma Ilyas

Saya seorang aktivis untuk mendorong dialog antar-agama, mempromosikan toleransi, serta memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.

Instagram

Unable to communicate with Instagram.