KADO APA UNTUK ANAK INDONESIA TAHUN INI?
Share:

KADO APA UNTUK ANAK INDONESIA TAHUN INI?

Dok, HAN 2015

Menjelang Hari Anak Indonesia 23 Juli

Setiap tahun Indonesia merayakan Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan HAN bermula dari sebuah gagasan untuk mewujudkan kesejahteraan anak. HAN yang selalu diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984, Surat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor B.246/MENKO/ KESRA/ XII/2012 tanggal 7 Desember 2012 tentang Penunjukkan HAN 2013, dan Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Nomor 20 tanggal 10 Mei 2013 tentang Panita Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2013.

Keistimewaan HAN adalah pengakuan negara adanya HAK anak khususnya sejak dilahirkannya UU No. 23 tahun 2002 disempurnakan No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dimana peringatan HAN sebagai momentum penting untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh elemen bangsa Indonesia dalam menghormati, menghargai, dan menjamin hak-hak anak tanpa membeda-bedakan atau diskriminatif, memberikan yang terbaik untuk anak, menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya. Peringatan HAN juga untuk meningkatkan kesadaran anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya kepada orang tua, masyarakat, serta kepada bangsa dan negara.
Peringatan HAN dimaksudkan agar seluruh komponen bangsa Indonesia, yaitu negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua bersama-sama mewujudkan kesejahteraan anak dengan menghormati hak-hak anak dan memberikan jaminan terhadap pemenuhannya tanpa perlakuan diskriminatif.

SUDAHKAH TUJUAN HAN TERLAKSANA?

Secara global, HAN tidak sekedar upacara dan perayaan, tetapi lebih penting lagi adalah mendorong kesadaran bersama betapa banyak persoalan anak yang belum terselesaikan akibat sistem yang belum terimplementasikan dengan baik.

Hal ini dapat dilihat dari maraknya kasus kekerasan terhadap anak (fisik, psikis, penelantaran, pelecehan dan perkosaan, trafficking) mendominasi berita di media sejak tiga tahun terakhir, kemudian tingginya kasus anak berhadapan dengan hukum, anak harus bekerja dibukan usia yang tepat (eksploitasi), pengasuhan yang bermasalah mengakibatkan penelantaran dan menghilamgkan masa depan anak, menjadi anak jalanan, adanya tekanan akibat kondisi disabilitas sehingga akses dan pelayanan bagi anak penyandang disabilitas tidak terpenuhi, kekerasan rasial, dan pengucilan (anak menjadi pengungsi) karena posisi minoritas dan terdiskriminasi.
Kiranya HAN menjadi mustahil jika fenomena diatas tidak mengalami perubahan dari kondisi yang ada disebabkan karena tidak berjalannya sistem kebijakan sebagaimana fungsinya, maka HAN menjadi euforia belaka.

Ditengah harapan untuk mendapatkan ‘kado’ terindah pada HAN 2016 ini adalah para pemimpin negeri, masyarakat dan orang tua makin peduli dan memahami kondisi anak Indonesia, sehingga terpenuhi, terfasilitasi dan terlindungi tidak terjadi segala bentuk pelanggaran yang mengakibatkan terjadinya ketercabutan hak anak baik dalam keluarga, masyarakat dan negara. Semoga ‘kado’ itu segera tiba, maka layaklah HAN dirayakan bersama.

Salam Anak Indonesia,
Ilma Sovri Yanti – Satgas PA

Share:
Written by
Ilma Ilyas
Join the discussion

Ilma Ilyas

Saya seorang aktivis untuk mendorong dialog antar-agama, mempromosikan toleransi, serta memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.