Edukasi tentang Hak Disabilitas: Belajar Dari Disabilitas Yang Gagal Mudik
Share:

Edukasi tentang Hak Disabilitas: Belajar Dari Disabilitas Yang Gagal Mudik

Sosialisasi Program MRAD 2016 melalui Kompas TV
Sosialisasi Program MRAD 2016 melalui KBR 68H
Sosialisasi Program MRAD 2016 melalui KBR 68H

Kisah ini berawal dari kegagalan Mudik Sigit bersama 3 orang teman pengguna kursi roda lainnya untuk mendapatkan tiket kereta. Pada awalnya, 2 bulan sebelum lebaran tahun ini, mereka sudah mencoba memesan tiket kereta secara online, namun apa daya tiket sudah habis semua. Pertimbangan menggunakan kereta bagi Sigit dan kawan kawan adalah, –karena lebih aman dibanding transportasi lainnya, meski masih menghadapi beberapa hambatan namun dengan kereta tetap lebih aman, katanya. Meski tiba di stasiun dini hari. Selanjutnya

dari stasiun Sigit masih harus menempuh  perjalanan 14 km ke desanya di Kebumen Jawa Tengah.

Namun harapan untuk Mudik tahun ini muncul lagi, setelah membaca viral online tentang Mudik Gratis untuk Disabilitas yang diselenggarakan pihak swasta. Mereka berusaha mendaftar, namun sayangnya lagi lagi mereka harus menelan kekecewaan karena Mudik Gratis yang ditawarkan belum mengakomodir mereka. Mereka baru menyertakan Disabilitas Daksa dan Tuna Rungu. Dengan kekecewaan, mereka menyampaikan mengapa Mudik Gratis Disabilitas masih membedakan kondisi mereka yang berkursi roda.

Namun entah mengapa, Sigit dan temannya Priyo tetap saja berusaha bertemu dengan panitia Mudik Gratis. Katanya tetap penting mensosialisasikan  24 hak Disabilitas dalam UU. Bagi mereka ini terjadi karena belum ada kesepemahaman bersama tentang situasi Disabilitas saya. Berbekal informasi 30 Juni 2016 BSM akan mengadakan konpers Mudik mereka meminta izin untuk ikut hadir. Kemudian mereka  menjelaskan situasi kenapa mereka tidak bisa Mudik pada pertemuan Media Briefing tersebut.

Direksi BSM melakukan cek audit mobil akses untuk mudik disabilitas
Direksi BSM melakukan cek audit mobil akses untuk mudik disabilitas

Pertama mereka menyampaikan usaha mereka untuk mudik yang akhirnya tidak berhasil, kemudian mendengar Mudik Gratis untuk Disabilitas mereka mencoba mendaftar, hanya kemudian kami kecewa ternyata pengguna kursi roda belum bisa ikut program ini. Mereka menjelaskan kami hanya butuh diberi kesempatan dan akses. Panitia Mudik menjelaskan mereka baru bisa mengakomodir Tuna Rungu dan Tuna Daksa. Sebenarnya ada transportasi travel yang bisa membantu mereka sampai kampung, hanya saja menjadi teramat mahal bagi mereka.

Kemudian panitia mengkonsultasikan situasi ini kepada Kementerian Sosial dan Satuan Tugas Perlindungan Anak. Gayung bersambut ternyata Kemensos memiliki mobil akses yang dapat mengantar Sigit dan teman temannya.

Akhirnya perjuangan mereka berbuah manis. Tanggal 2 Juli nanti, jam 8 pagi, mereka akan dilepas bersama 1200 orang pemudik gratis lainnya di jalam MH. Thamrin Jakarta.

Akan ada pemandangan baru dalam barisan 25 bus nanti, yaitu adalanya Mobil Akses yang membawa Sigit dan kawan kawan pengguna kursi roda bisa pulang kampung. Pertimbangan memakai mobil akses ini disampaikan penyelenggara Mudik Gratis, karena hanya mobil akses ini yang aman dan bisa menghantarkan mereka sampai rumah, tidak mungkin dengan naik bus. Betapa bahagia Sigit dan kawan kawan atas komitmen penyelenggara Mudik Gratis. Aduh haru banget rasanya melihat perjuangan teman teman Disabilitas. Mobil Akses akan menempuh perjalanan Mudik ke Purbalingga, Kebumen dan Solo. Bila ada teman teman yang sepanjang Mudik melihat mobil berbentuk Elf atau sebesar mobil travel dengan tulisan Mobil Akses Penyandang Disabilitas, beri semangat ya dan salam untuk mereka ya.

Apresiasi Sigit Kepada Penyelenggara Mudik Gratis

Sigit dan kawan kawan secara khusus berterima kasih, karena mereka punya keinginan kuat Mudik dan disambut dengan memberikan akses dan kesempatan. Bayangkan saja jika kami yang Disabilitas punya keinginan mandiri. Namun bangunan, infrastruktur, transportasi tidak bertumbuh bersama keinginan kami, tentunya akan sulit dan tidak ketemu. Akhirnya pandangan orang menjadi terbalik melihat kami menyusahkan, padahal tidak seperti itu cara berfikirnya. Kami bertumbuh dan belajar mandiri, diluar kami harusnya juga bertumbuh seperti kami. Dan itu juga menjadi bagian membangun kualitas kehidupan bersama.

Harapan Sigit semoga langkah kecil ini, bisa menjadi pemantik untuk penyelengggaran Mudik Gratis tahun depan menyertakan teman teman kami yang Disabilitas.

Satgas PA Kampanye MRAD 2016

Perjalanan Satgas PA bersama Jakarta Barrier Free Tourism melaksanakan kampanye Mudik Ramah Disabilitas dimulai 2015, adalah perjuangan mereka Disabilitas dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya edukasi hak disabilitas. Tentunya ini penantian panjang, sejak tahun 1997 sejak di syahkan UU tentang Disabilitas dan kemudian di amandemen menjadi UU No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas.

Karena Disabilitas bisa terjadi pada siapa saja, apalagi event Mudik. Bagi mereka Mudik selalu saja membawa korban dan potensi Disabilitas sangat tinggi, dengan hitungan ribuan korban meninggal tiap tahunnya. Artinya bagi mereka yang bisa Mudik tahun lalu, bisa jadi tahun ini tidak dapat Mudik karena korban kecelakaan dan menjadi Disabilitas. Inilah yang harus menjadi perhatian kita semua.

Juga harapan bahkan tuntutan mereka pada pembangunan, terutama perbaikan infrastuktur dan sarana transportasi public yang terintegrasi. Bukanlah hanya untuk kepentingan mereka. Para Disabilitas menyampaikan justru perjuangan dan tuntutan ini untuk semua orang. Contoh saja ketika Mas Faisal Rusdi pengguna kursi roda Mudik tahun 2015, Mas Faisal menuju Kampung Rambutan, ketika mencoba masuk kamar mandi di terminal kampung rambutan. Banyak sekali hambatan, mulai tidak ada tempat naik kursi rodanya yang landai, pintu kamar mandi yang menyulitkan untuk masuk, pegangan atau titian selama di kamar mandi agar bisa pindah dari kursi roda ke closet.

Bayangkan, bila saja tempatnya lebih lega dan jalannya ada pilihan tangga dan landai, sebenarnya akan membantu kami yang Disabilitas, juga membantu lansia misalnya dalam melangkah bila kesulitan, begitu juga orang stroke yang masih berjalan pelan atau yang sedang lemah sakit, tetap bisa mengakses kamar mandi. Bahkan anak anak lebih menyukai jalan landai yang seperti menurun, kemudian titian menuju kamar mandi tentunya menyenangkan untuk anak berpegangan atau bergelayutan.

Artinya hasil perbaikan fasilitas dan pembangunan dapat digunakan siapa saja dan sangat bermanfaat bagi siapa saja. Artinya perbaikan ini untuk semua dan lebih meningkatkan kualitas kehidupan. Jangan selalu melihat mereka menuntut, tetapi sesungguhnya perjuangan mereka meminta perbaikan pelayanan dan akses adalah meningkatkan kualitas kehidupan kita semua.

Terakhirpenyampaian terima kasih kepada pihak pihak yang sudah mau belajar bersama tentang Disabilitas yang sesungguhnya, karena Disabilitas itu kita, kita juga berpotensi untuk menjadi Disabilitas. Jangan sampai ketika kita sudah Disabilitas baru teringat pentingnya berbagai akses dan kesempatan. Untuk itumari semangat, bangun kemandirian Disabilitas melalui Mudik Ramah Disabilitas.

Ditulis Ilma Sovri Yanti

Koordinator Mudik Ramah Disabilitas 2016

 

Share:
Written by
Ilma Ilyas
Join the discussion

Ilma Ilyas

Saya seorang aktivis untuk mendorong dialog antar-agama, mempromosikan toleransi, serta memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.